Sejak dirilisnya Kurikulum 2013, ada kecenderungan untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan
belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah. Belajar akan lebih
bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajarinya, bukan memgetahuinya.
Pembelajaran yang berorientasi pada penguasaan materi terbukti berhasil dalam
kompetisi menggingat jangka pendek tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan
persoalan dalam kehidupan jangka panjang.
Pembelajaran
kontektual (Contextual
Teaching and Learning /CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru
mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan
mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan
penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.
Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa.
Proses pembelajaran berlansung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan
mengalami, bukan mentransfer pengetahuan dari guru ke siswa.
Disisi lain, pembelajaran kolaboratif dapat
menyediakan peluang untuk menuju pada kesuksesan praktek-praktek pembelajaran. Pembelajaran kolaboratif melibatkan partisipasi aktif
para siswa dan meminimisasi perbedaan-perbedaan antar individu. Pembelajaran
kolaboratif telah menambah momentum pendidikan formal dan informal dari dua
kekuatan yang bertemu, yaitu:
(1) realisasi praktek, bahwa
hidup di luar kelas memerlukan aktivitas kolaboratif dalam kehidupan di dunia
nyata;
(2) menumbuhkan kesadaran berinteraksi sosial
dalam upaya mewujudkan pembelajaran bermakna.
Ide pembelajaran kolaboratif bermula dari
perpsektif filosofis terhadap konsep belajar. Untuk dapat belajar, seseorang
harus memiliki pasangan atau teman. Pada tahun 1916, John Dewey, menulis sebuah
buku “Democracy and Education”. Dalam buku itu, Dewey menggagas konsep
pendidikan, bahwa kelas seharusnya merupakan cermin masyarakat dan berfungsi
sebagai laboratorium untuk belajar tentang kehidupan nyata.
Idealnya melalui model-model pembelajaran diatas, baik kontekstual maupun
kolaboratif, keduanya membutuhkan peran aktif dari peserta didik dan pemahaman
yang sangat baik mengenai model pembelajaran dan materi pelajaran yang
disampaikan oleh guru. Namun banyak dijumpai di sekolah-sekolah kedua aspek ini
tidak terpenuhi misalnya, hanya beberapa peserta didik yang mengambil andil
dalam kelompok sedangkan sisanya hanya menyalin pekerjaan peserta didik yang
aktif tersebut,dan beberapa guru belum sepenuhnya menerapkan model pembelajaran
sehingga kelas menjadi gaduh dan tidak terkontrol (khususnya pada pembelajaran
kolaboratif) , serta tidak menunjangnya media dan sarana
pembelajaran.
Sejak dirilisnya Kurikulum 2013, ada kecenderungan untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan
belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah. Belajar akan lebih
bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajarinya, bukan memgetahuinya.
Pembelajaran yang berorientasi pada penguasaan materi terbukti berhasil dalam
kompetisi menggingat jangka pendek tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan
persoalan dalam kehidupan jangka panjang.
Pembelajaran
kontektual (Contextual
Teaching and Learning /CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru
mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan
mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan
penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.
Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa.
Proses pembelajaran berlansung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan
mengalami, bukan mentransfer pengetahuan dari guru ke siswa.
Disisi lain, pembelajaran kolaboratif dapat
menyediakan peluang untuk menuju pada kesuksesan praktek-praktek pembelajaran. Pembelajaran kolaboratif melibatkan partisipasi aktif
para siswa dan meminimisasi perbedaan-perbedaan antar individu. Pembelajaran
kolaboratif telah menambah momentum pendidikan formal dan informal dari dua
kekuatan yang bertemu, yaitu:
(1) realisasi praktek, bahwa
hidup di luar kelas memerlukan aktivitas kolaboratif dalam kehidupan di dunia
nyata;
(2) menumbuhkan kesadaran berinteraksi sosial
dalam upaya mewujudkan pembelajaran bermakna.
Ide pembelajaran kolaboratif bermula dari
perpsektif filosofis terhadap konsep belajar. Untuk dapat belajar, seseorang
harus memiliki pasangan atau teman. Pada tahun 1916, John Dewey, menulis sebuah
buku “Democracy and Education”. Dalam buku itu, Dewey menggagas konsep
pendidikan, bahwa kelas seharusnya merupakan cermin masyarakat dan berfungsi
sebagai laboratorium untuk belajar tentang kehidupan nyata.
Idealnya melalui model-model pembelajaran diatas, baik kontekstual maupun
kolaboratif, keduanya membutuhkan peran aktif dari peserta didik dan pemahaman
yang sangat baik mengenai model pembelajaran dan materi pelajaran yang
disampaikan oleh guru. Namun banyak dijumpai di sekolah-sekolah kedua aspek ini
tidak terpenuhi misalnya, hanya beberapa peserta didik yang mengambil andil
dalam kelompok sedangkan sisanya hanya menyalin pekerjaan peserta didik yang
aktif tersebut,dan beberapa guru belum sepenuhnya menerapkan model pembelajaran
sehingga kelas menjadi gaduh dan tidak terkontrol (khususnya pada pembelajaran
kolaboratif) , serta tidak menunjangnya media dan sarana
pembelajaran.
Pada pembelajaran kooperatif Agar seluruh anggota kelompok berperan aktif perlu adanya pembagian tugas yang jelas. Setiap anggota memiliki peranan dalam keberhasilan kelompoknya.
BalasHapusModel pembelajaran kontekstual bisa membuat peserta didik lebih mandiri dan bisa menerapkan pembelajaran yang d peroleh d sekolah dalam kehidupan sehari-hari
BalasHapusApakah model pembelajaran kontekstual dan model pembelajaran kolaboratif itu dapat digunakan secara bersamaan khususnya pada pembelajaran IPA ?
BalasHapusAssalmu alaikum, berbagai macam masalah pendidikan sedikit banyaknya terjadi karena sistem pelajaran disekolah kurang bervariatif, tidak menarik dan membosankan. Dengan adanya berbagai model dan cara penerapannya diharapkan menjadi angin segar agar tidak lagi terjadi penyimpangan seperti menyalin tugas dll. Dan peserta didik lebih memaknai proses belajarnya
BalasHapusDalam pembagian kelompok guru yang menentukan siapa saja yang harus berada dalam satu kelompok. Nah, inilah mengapa penting sekali mengenal karakter masing-masing siswa. Dari yang rajin, pintar, kurang menonjol, banyak diam, harus dicampur. Jangan sampai berat sebelah.
BalasHapusSangat setuju dengan pernyataan saudari Reni. Bahwa model pembelajaran kontekstual bisa membuat peserti didik lebih mandiri.
BalasHapusSangat membantu syekali. Terimakasih ulasan nya yaa mbak
BalasHapusSebagai seorang guru hrus membuat inovasi"model pembelajaran agar pembeljaran yg berlngsung didlm kls tdk terlalu membosankan dan siswa jd bersemngat untk ikt terlibat dlm proses pembelajaran sehingga kls menjadi kondusif dan materi bisa dipahami oleh siswa
BalasHapus